MODERNISASI JAMU AGAR TETAP RELEVAN DENGAN PASAR

Studi Kasus: Acaraki Jamu & Suwe Ora Jamu

Authors

  • Susi Hartanto Pelita Harapan University
  • Angela Narissa Universitas Peliha Harapan

Keywords:

jamu, modern, innovation

Abstract

Jamu dianggap kuno, pahit, tidak higienis, hanya dikonsumsi oleh sebagian kecil masyarakat perekonomian menengah ke bawah, dan belum mampu menarik minat generasi muda sehingga keberlangsungannya semakin tergerus di era modern ini. Artikel ini membahas cara para inovator membawa jamu ke arah yang lebih modern agar bisa diapreasiasi. Artikel ini dihasilkan dari observasi, wawancara terhadap pelaku jamu modern, serta pengalaman langsung sebagai konsumen jamu modern. Artikel ini bertujuan: 1) meningkatkan minat serta rasa ingin tahu remaja maupun pemuda/i Indonesia mengenai jamu; dan 2) mengaspirasi para inovator agar membuat kreasi produk jamu yang lebih luar biasa sesuai keahlian bidangnya masing-masing. Kata kunci dari jamu modern adalah inovasi menu, edukasi, pengalaman baru, presentasi, atribut, dan fasilitas. Terakhir, penulis berharap karya tulis ini dapat memberikan dampak positif bagi para pelaku jamu serta penikmat jamu untuk terus berkreasi agar jamu bisa tetap relevan dengan pasar.

Downloads

Download data is not yet available.

References

[1] Tanpa Tahun. "ASEAN Ceramics Market Size, Share & Trends Analysis Report By Product, By Application (Sanitary Ware, Table & Ornamental Ware, Abrasives, Bricks), By End-Use, And Segment Forecasts, 2018 - 2025". Grand View Research. Diakses tanggal 9 Oktober 2022. https://www.grandviewresearch.com/industry-analysis/asean-ceramics-market
[2] Beers, S. J. 2001. Jamu: The Ancient Indonesian Art of Herbal Healing. Singapura: TUTTLE Publishing.
[3] Endarto, D. (2012). "Lambang Kerajaan WILWATIKTA (Majapahit)". Wilwatikta Online Museum. Diakses tanggal 11 September 2022.
[4] Gardjito, M., dkk. (2018). Jamu: Pusaka Penjaga Kesehatan Bangsa, Asli Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
[5] Mubah, A. S. (2011). Strategi Meningkatkan Daya Tahan Budaya Lokal dalam Menghadapi Arus Globalisasi. 24(4), 302–308.
[6] Putri, D. F., Ritonga, H. M., Murdiati, V., & Zainul, R. (2018). A REVIEW WHAT IS HYDROTHERMAL?.
[7] Sukini. (2018). Jamu Gendong: Solusi Sehat Tanpa Obat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
[8] Suneki, S. (2012). Dampak Globalisasi Terhadap Eksistensi Budaya Daerah. Jurnal Ilmiah CIVIS, II(1), 307–321.
[9] Tanudirjo, D. A. (Eds). (2014). Inspirasi Majapahit. Yogyakarta: Yayasan Arsari Djojohadikusumo, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Udayana, dan Universitas Hasanuddin.
[10] Tilaar, Martha dan Bernard T. Widjaja. 2015. The Tale of Jamu: The Green Gold of Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Printer.
[11] TIM PENYUSUN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI. (2020). STATISTIK EKONOMI KREATIF 2020. Jakarta Pusat: PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF/ BADAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF RI
[12] Widodo, A. (2020). Nilai Budaya Ritual Perang Topat Sebagai Sumber Pembelajaran IPS Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah Dasar. Gulawentah:Jurnal Studi Sosial, 5(1), 1–16. https://doi.org/10.25273/gulawentah.v5i1.6359

Downloads

Published

2023-03-16

How to Cite

Hartanto, S., & Narissa, A. (2023). MODERNISASI JAMU AGAR TETAP RELEVAN DENGAN PASAR: Studi Kasus: Acaraki Jamu & Suwe Ora Jamu. SENADA (Seminar Nasional Manajemen, Desain Dan Aplikasi Bisnis Teknologi), 6, 19–29. Retrieved from https://eprosiding.idbbali.ac.id/index.php/senada/article/view/733

Most read articles by the same author(s)