PERAN KOLEKTIF SENI DALAM PENGEMBANGAN KRIYAWAN AKAR RUMPUT PASCA PANDEMI

Authors

  • Asmudjo Jono Irianto Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Keywords:

kriya, kerajinan, seni rupa, kolektif seni, pasca pandemi

Abstract

Dalam seni rupa Barat di abad ke-20, dikenal ada tiga cabang seni rupa, yaitu seni rupa murni (fine art),
desain dan kriya (craft). Ketiga cabang tersebut menjadi model pendidikan tinggi seni rupa hampir di
seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Jika fine art dan desain cukup jelas area praktik dan lingkup
keprofesiannya, maka kriya lingkupnya lebih beragam dan berlapis. Di Indonesia, lingkup kriya juga
termasuk para perajin akar rumput dari desa-desa kerajinan, dan banyak yang kondisinya stagnan atau
malah menyusut. Salah satu potensi mengembangkan dan meningkatkan keberadaan para pengrajin
adalah melalui keterlibatan kolektif seni. Kolektif seni merupakan fenomena cukup baru dalam praktik
seni rupa kontemporer global, dan merupakan reaksi kritik pada metode seni otonom dalam seni rupa modern Barat yang berlanjut dalam praktik seni rupa kontemporer. Karya-karya seni rupa kontemporer,
kendati menyajikan representasi kritis mengenai persoalan manusia dan dunia, namun dinilai tidak
memicu perubahan, alih-alih karya-karya seni otonom terkooptasi kapital, dan dikomodifikasi menjadi
komoditas estetik. “Karya” kolektif seni umumnya berupa “kegiatan” atau “proses kerja” bersama
komunitas masyarakat akar rumput, baik dengan tujuan membangkitkan “kesadaran” maupun problem
solving persoalan yang ada dalam komunitas masyarakat.
Kolektif seni berorientasi keterlibatan sosial dengan pola kerja kolaboratif (antar disiplin keahlian).
Karena itu kolektif seni di Indonesia memiliki peluang besar untuk turut serta membantu
mengembangkan potensi para perajin akar rumput. Untuk itu dibutuhkan para kolektif seni yang fokus
pada persoalan pengembangan desa-desa kerajinan. Hal itu makin relevan dengan kondisi pasca
pandemic covid-19. Kepedulian para seniman, kriyawan mandiri, desainer dan para ahli lain dalam kerja kolaboratif dalam kolektif seni untuk kepentingan para perajin akar rumput dapat dilihat sebagai
kesetiakawanan sosial, satu hal yang sangat dibutuhkan pada masa pandemi dan pasca pandemik.

Downloads

Download data is not yet available.

References

[1] N. Stangos. Concepts of Modern Art,
From Fauvism to Postmodernism.,
London: Thames and Hudson, 1994.
[2] S. West ed. The Bulfinch Guide to Art
History., Boston: A Bulfinch Press Book,
1996.
[3] H. Foster dkk. Art Since 1900,
Modernism, Antimodernism,
Postmodernism., London: Thames and
Hudson, 2004, hlm. 478-482.
[4] H. Belting. ”Art And The Art History in
The New Museum, The Search For a
New Identity” David Moss, ed., Art &
Design No. 48, Painting in The Age of
Artificial Inteligence London: Academy
Group Ltd., 1996, hlm. 34-37.
[5] C. Bishop. Artificial Hell, Participatory
Art and the Politics of Spectatorship.,
London:Verso, 2012
[6] G. H. Kester. The One and The Many,
Contemporary Collaborative Art in
Global Context., Durban: Duke
University Press, 2011.
[6] M. Fixer. Pembacaan Kolektif Seni
Indonesia dalam Sepuluh Tahun
Terakhir., Jakarta: Yayasan Gudskul
Studi Kolektik, 2021

Downloads

Published

2022-03-17

How to Cite

Jono Irianto, A. (2022). PERAN KOLEKTIF SENI DALAM PENGEMBANGAN KRIYAWAN AKAR RUMPUT PASCA PANDEMI. SENADA (Seminar Nasional Manajemen, Desain Dan Aplikasi Bisnis Teknologi), 5, 258–264. Retrieved from https://eprosiding.idbbali.ac.id/index.php/senada/article/view/690